5 posts tagged “purbalingga”
Share a photo of something that made a huge impact on your life.
This is a hard question. I cannot think a single entity which has a big impact on my life. But, after one minute thought, I think the best answer from me is nature. Yes, nature has been giving a huge impact on my life. What I am now is the total effect of nature since my childhood. This is the picture of a valley in Purbalingga, my town in central Java. The air is fresh, the scenery is beautiful. Green is everywhere. I love my country.
How many places have you lived in your life?
Three cities I have lived in are Purbalingga, Yogyakarta and Jakarta. Purbalingga is a little town in Central Java where I was born. I took my school in the town from elementary school to senior high school. Yogyakarta is the second place I lived in for six years. And, now I am living in Jakarta. But, I think I will leave the city in the near future. I have a big plan. But, do not ask me about the secret plan. I will not tell you anything. Top secret...
Goa Lawa terletak 27 kilometer di sebelah utara kota Purbalingga. Dari ibukota kabupaten ini kita harus naik ke lereng Gunung Slamet melewati Kecamatan Bobotsari. Jalan di daerah ini sangat bagus, cukup lebar meskipun banyak kelokan tajam dan ramai. Goa ini tepatnya berada di Kecamatan Karangreja, di sisi kiri jalan yang menghubungkan Purbalingga dengan Pemalang. Dari jalan besar ini kita masih harus menanjak lagi sekitar 5 kilometeran. Jalan ini pun sudah diaspal halus. Bis besar bisa memasuki jalan ini.
Tidak seperti gua yang biasanya ada di Indonesia yang biasanya berada di lereng bukit dan batuan kapur sehingga akan timbul stalagtit dan stalagmit, Gua lawa ini memiliki keistimewaan karena dibentuk dari proses pendinginan lava, sehingga batuannya keras dan kuat tanpa menimbulkan stalagtit dan stalagmit. Untuk bisa melihat dari dekat keindahan Gua Lawa ini, kita harus menuruni lubang tanah dan menelusuri lorong-lorongnya.
Sebagai tempat rekreasi, tempat ini pun sangat cocok, karena udaranya yang sejuk dan menyegarkan. Dan ini cukup menjanjikan untuk menambah pendapatan asli daerah dari sektor pariwisata. Gua Lawa merupakan keajaiban alam yang mungkin satu-satunya di Indonesia. Umumnya gua-gua yang ada di Indonesia terdiri dari batuan kapur dan berada di lereng bukit, sehingga sering melahirkan stalagnit dan stalagmit. Sedangkan Gua Lawa termasuk gua vulkanik yang terbentuk dari lava pegunungan aktif yang meleleh dan mengalami pendinginan beribu-ribu, bahkan berjuta-juta tahun.
Proses pendinginan lava ini mengakibatkan batuannya keras dan kuat dengan warna hitam tanpa menimbulkan stalagnit maupun stalagmit. Tebal batuan bisa mencapai 50 meter, sehingga tahan terhadap guncangan. Letaknya juga tidak di lereng bukit, tapi di bukit. Proses alami dari gaya tarik bumi tidak mungkin terjadi di daerah kapur. Ciri-ciri gua vulkanik antara lain terdapat lorong dan mata air yang terjadi secara alami.
Untuk menikmati keindahan Gua Lawa kita harus menuruni lubang tanah yang menganga dan menelusuri lorong-lorong. Melewati jalan selebar satu meter, kita akan menikmati kelembaban di dalam gua dan kesejukan mata air yang selalu menetes dari dinding-dinding gua. Di setiap dua-tiga puluh meter perjalanan menelusuri gua, kita bisa menengok ke atas dan menyaksikan lubang tanah berdiameter lebar -- yang selama ini berfungsi sebagai ventilasi gua. Lubang-lubang itu terbentuk dari proses alam, bukan dibuat manusia. Sayangnya saya tidak bisa mengambil gambar keadaan di dalam goa ini. Cahaya yang minim menyebabkan kamera saya tidak mampu menangkap gambar dengan sempurna.
Semula terdapat 17 lubang. Belakangan dua lubang mengalami kerusakan dan mulai menyempit dengan sendirinya. Di atas lubang-lubang itu, kini dibuat atap permanen dari genteng berbentuk jamur. Dari luar gua orang bisa memandang ke bagian dalam gua lewat lobang ini.
Setelah menelusuri gua sepanjang 1,5 km, tentu kita akan merasa capek. Tapi keajaiban-keajaiban yang bisa kita temukan di bumi Purbalingga ini, akan segera mengusir rasa lelah. Apalagi untuk mereka yang menyukai olahraga jalan sehat. Tidak hanya kesegaran tubuh yang bisa didapat, tapi juga kesegaran pikiran dan jiwa.
Liburan kemarin saya ke Purbalingga, sebuah kota kecil di Jawa Tengah tempat saya berasal. Hanya dua hari saya berada di tanah kelahiran saya itu. Jumat sore saya lepas dari Jakarta dan Minggu malamnya saya kembali lagi ke ibukota ini.
Sabtu lalu ketika saya sedang santai dengan beberapa keponakan, tiba-tiba terdengar suara gamelan sederhana ditabuh bertalu-talu. Ini bukan jenis gamelan dengan gaya yang rapi jali. Ini hanya tetabuhan dengan dua jenis instrumen saja. Satu buah bilah-bilah logam yang dipukul dengan kayu, sedangkan yang satunya adalah kendang sederhana yang juga dipukul dengan kayu yang dilapisi karet. Ternyata yang datang adalah rombongan tukang topeng monyet. Tidak biasanya tukang monyet ada di kota saya. Di Jakarta memang sering ada tukang topeng monyet berkeliaran di kampung-kampung. Tapi, di Purbalingga ini, sejak saya masih kecil sampai dengan sekarang ini baru pertama kali ini ada topeng monyet.
Sebenarnya saya tidak tertarik dengan kesenian ini. Tapi, karena banyak keponakan yang masih kecil, okelah saya panggil tukang topeng monyet ini ke halaman rumah. Ternyata bayaran untuk satu sesi tidaklah mahal, hanya Rp.7000 saja.
Mulailah monyet bernama Anis yang diikat pada bagian leher itu beraksi. Dia tampaknya sudah hafal dengan perintah pawangnya. Sebelum permainan dimulai saya wanti-wanti ke pawangnya agar dia tidak bermain kasar terhadap monyetnya. Sang pawang setuju.
Paling tidak ada tujuh atau delapan permainan yang dipertontonkan. Dari mulai monyet membawa gerobak, monyet mencari kayu bakar, monyet main perang-perangan, monyet mencari air, monyet bersolek, monyet salto dan lain-lain. Anak-anak yang berkumpul di halaman rumah tampak benar-benar menikmati sajin yang jarang mereka dapatkan ini.
Pada akhir pertunjukkan sang pawang memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk membelai Anis. Sang pawang hanya berpesan agar anak-anak tidak takut terhadap monyet ini dan jangan berteriak-teriak supaya monyet tidak kaget. Banyak anak yang memberanikan diri untuk mengelus Anis. Monyet ini pun diam saja sambil menikmati buah kelengkeng yang diberikan oleh keponakan saya.
Atraksi berakhir tatkala sang monyet mengedarkan mangkok kosong untuk diisi uang dari para pengunjung. Anak-anak banyak yang memberi recehan. Mereka bersorak gembira. Semua senang.