6 posts tagged “kebayoran”
Sejak kecil saya belum pernah memelihara burung. Entah mengapa saya tidak tertarik untuk memelihara binatang yang bisa terbang ini. Dulu, memang kakakku sempat memelihara burung merpati. Tapi, itu tidak lama. Kenapa? Soalnya bapakku tidak suka dengan burung. Hanya beberapa minggu saja burung dara itu sempat ngendon di rumahku. Suatu pagi, kakakku kehilangan burung daranya, tiga pasang. Bapak bilang, burungnya terbang gara-gara semalam ada kucing. Belakangan, setelah kami besar, baru bapak membuat "pengakuan". Burung-burung itu ternyata dilepas di gelapnya malam. Lho, kenapa?
"Kalau kalian aku ijinkan memelihara burung, kapan waktunya buat belajar," kata bapak beberpa waktu yang lalu. Saya paham keputusan beliau untuk tidak mengijinkan kami memelihara burung.
Nah, foto siapa itu yang sedang memberi makan burung? Tentu saja itu bukan foto kakakku, apalagi bapakku. Itu foto seorang pedagang burung di Pasar Kebayoran yang sedang "ngloloh" burungnya. Awas lho, flu burung itu berbahaya.
Saya bertemu dengan pak Achmad Sanusi, penjual air nira itu, pada suatu siang yang terik
di bawah jembatan layang Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Dia sedang duduk. Tampaknya
sedang melamun sambil melihat orang yang lalu-lalang.
"Sudah dua tahun saya berjualan air nira ini," katanya membuka percakapan. Saya mememesan
satu gelas air niranya.
"Saya berasal dari Rangkasbitung. Di Jakarta ini saya kost di dekat pasar Inpres di dekat
stasiun," katanya sambil memegang topi yang bertuliskan WorldCup itu. Wajahnya tampak
lelah dan capek. Rangkasbitung adalah sebuah kabupaten di provinsi Banten, sebelah barat
selatannya Jakarta. Kita bisa pergi ke kabupaten ini menggunakan kereta ekonomi yang
berangkat dari Stasiun Pasar Tanah Abang, Stasiun Palmerah, atau Stasiun Kebayoran Lama.
"Air nira ini tidak saya ambil sendiri dari pohon. Ada orang yang mengirim air ini setiap
hari," kata bapak yang menurut perkiraan saya berumur sekitar 50-an tahun ini. Disedotnya
rokok yang tinggal seujung itu dalam-dalam.
"Kerja seperti ini berat, Mas. Saya baru berani pulang ke Rangkasbitung jika sudah
memegang uang Rp.100 ribu. Uang sebanyak itu baru bisa saya kumpulkan selama tujuh hari
penuh. Bahkan saya harus berjualan di sini sampai jam 10.00 malam," katanya. Sedih saya
mendengar dia bercerita seperti ini. Tapi itulah kenyataan hidup di Jakarta.
Satu gelas air nira sudah saya habiskan. Saya menebak-nebak harganya. Saya pikir harganya
sekitar Rp.2500-an. Ketika gelas itu saya sorongkan kepadanya sambil menyerahkan uang
Rp.5000-an, dia dengan cekatan mengambil kembalian. Saya hitung sepintas ketika dia
mengambil lembaran-lembarang uang seribuan. Empat buah lembaran itu dikembalikannya kepada
saya. Walah, air manis dan sejuk ini ternyata segelas hanya berharga Rp.1000 saja.
Duh...
Stasiun ini letaknya di dekat kantor saya. Meskipun demikian, saya tidak pernah
menggunakan kereta api untuk bepergian di dalam kota Jakarta.
Stasiun Kebayoran Baru ini benar-benar tidak teratur. Banyak pedagang yang berlalu-lalang
di emperan stasiun. Pengemis dan anak jalanan juga tidak sedikit jumlahnya.
Selaini itu, proses keluar masuknya penumpang sangat tidak terorganisir dengan baik. Saya
lihat banyak orang yang tidak memegang tiket namun bisa berkeliaran di peron. Nggak heran
kalau perusahaan kereta api juga tidak pernah untung.