13 posts tagged “java”
Ya, kereta ini selalu penuh. Tiap gerbongnya dijejali oleh penumpang. Ada juga pedagang yang membawa keranjang bawaannya. Kadang saya bisa melihatnya ketika kereta ini sedang berhenti di stasiun Palmerah, Jakarta Barat. Saya melihat mengendari kereta ini tidak nyaman, ya. Pasti udara di dalamnya panas sekali. Belum lagi ditambah asap rokok bapak-bapak yang sembarangan mengepulkan racunnya. Ugh...
Nah, ada juga yang bergantungan di pintu kereta. Bahkan yang naik di atap kereta pun juga tidak terhitung banyaknya. Mereka duduk dengan santai. Jika stasiun sudah dekat, mereka bersiap-siap untuk turun. Tahukah Anda bahwa merekalah yang naik kereta di pintu dan atap berada di kelas VIP. Ya, mereka memang golongan VIP. Tapi, VIP di sini artinya adalah VERY IDIOT PERSON. Huahahahahaha....
Naik kereta dengan cara bergantungan di pintu dan naik ke atap adalah tindakan berbahaya. Hanya orang BODOH saja yang berani melakukannya. Ya, merekalah orang-orang VIP alias VERY IDIOT PERSON!
Sudah berulang kali kiranya media massa kita menyoroti banyaknya pengemis saat bulan ramadhan tiba. Bahkan, televisi kita juga sudah melakukan reportase tentang bagaimana para peminta-minta itu melakukan triknya agar nampak lebih memelas. Ada yang membuat luka buatan, ada pula yang pura-pura cacat.
Nah, seorang pengemis yang saya lihat di jalan ini contohnya. Sudah lama dia beroperasi di bawah kolong jembatan Slipi. Lokasi ini memang strategis. Ratusan mobil tiap hari lewat jalanan ini. Kendaraan yang lalu lalang di sini pasti jalannya lambat di pagi hari. Maklumlah, jumlahnya sangat banyak dan berjejal-jejal. Apalagi jika palang kereta api diturunkan, kemacetan semakin menjadi-jadi. Sekitar sore dan malam hari wanita ini akan berpindah lokasi operasinya. Dia akan berada di atas jembatan, masih bersama bayinya. Jika tidak percaya, silakan cek sendiri saat kemacetan melanda daerah Slipi. Dia berada di atas jembatan Slipi yang menuju ke arah Grogol.
Wanita ini tidak sendirian mengemis. Dia ditemani seorang balita yang diletakkannya di trotoar. Benar-benar sebuah trik yang amat jitu! Dia menengadahkan tangan saat satu per satu mobil lewat. Sementara itu anak kecilnya tiduran di selembar kain yang digelar di trotoar.
Kalau tidak salah ingat, saya sudah melihat wanita ini sejak satu atau dua tahun ini. Apakah bayinya tidak bertambah besar? Ah, jangan tanya hal itu. Di Jakarta ini apa sih yang tidak bisa disewa? Bayi untuk piranti mengemis pun ada persewaannya. Benar-benar tidak manusiawi. Sebuah koran pernah mengungkap bahwa biaya sewa satu orang bayi per hari untuk diajak mengemis adalah Rp15.000 sampai Rp25.000. Nah, penyewa harus menyediakan makanan dan minuman untuk sang balita. Tapi, jarang ada pengemis yang memberikan susu ke bayi sewaan ini. Paling-paling cuma air teh manis saja.
Berapa hasil dari mengemis per hari? Konon, seperti diungkap oleh televisi akhir-akhir ini, saat bulan ramadhan seperti ini penghasilannya melonjak tajam. Banyak orang yang berlomba-lomba memberikan sedekah. Minimal orang bermobil melempar lembaran seribuan ke pengemis. Uang gocap sudah jarang dilemparkan. Tidak heran jika uang Rp100.000 per hari pasti sudah di tangan. Bayangkan, jika dia mengemis setiap hari maka gaji seorang sarjana lulusan UGM yang baru pertama kali kerja pun akan dikalahkan oleh penghasilan seorang pengemis. Hebat, bukan?
Ya, begitulah salah satu potret di Jakarta sekarang. Saya sendiri terus terang tidak pernah memberi uang ke pengemis di jalanan. Setelah tahu laporan media massa yang mengungkapkan kebohongan yang dilakukan para pengemis, saya tidak memberi uang ke mereka. Jika kita membei uang ke pengemis palsu seperti itu, artinya kita memberikan harapan ke mereka. Harapan inilah yang memaksa mereka untuk tetap berada di pinggir jalan dan mengemis tiap hari. Hasil mengemis jauh lebih besar daripada membanting tulang, khan? Nah, untuk memaksa mereka bekerja, satu-satunya cara adalah dengan tidak memberi mereka uang. Jika ingin membantu orang lain, bantulah orang yang benar-benar Anda kenal, misalnya tetangga di kanan kiri Anda. Bantuan seperti itu pasti tepat sasaran daripada memberi ke para pengemis jalanan.
Foto ini sudah pernah tampil di blog saya yang di sebelah itu. Sekarang saya tampilkan foto ini lagi sekarang. Saya senang melihat anak yang badung di atas kendaraan itu. Kelihatan gagah, khan? Apalagi dia memakai seragam pramuka, lebih gagah lagi dengan merah-putih melingkar di lehernya. Pasti dia berpikir perilakunya sekarang sama dengan ketika pahlawan kita dengan semangat 45 mengusir penjajah. Duh, heroik banget, ya?
Show us a picture of someone that can always makes you laugh.
Well, actually I am not lauging at the man with blue T-shirt. No, I do not laugh at him. It is the monkey which makes me laugh when I look at the photo. The name of the monkey is Anis. This is not a big monke. Anis is a domisticated monkey. Anis is able to do a lot of things such as looking at himself on the mirror, carrying bag, carrying a lttle gun to shoot. This is a mini circus in Java. You can hire the monkey with the trainer for less than one dollar for around 15 minutes performance. Children love this kind of performance. They usually also give donation to the team. You can see on the picture that the trainer also playing drumb to make his monkey demonstrates the attraction. This is a simple circus though. But it makes me laugh. Very funny.
Share a photo of something that made a huge impact on your life.
This is a hard question. I cannot think a single entity which has a big impact on my life. But, after one minute thought, I think the best answer from me is nature. Yes, nature has been giving a huge impact on my life. What I am now is the total effect of nature since my childhood. This is the picture of a valley in Purbalingga, my town in central Java. The air is fresh, the scenery is beautiful. Green is everywhere. I love my country.
How many places have you lived in your life?
Three cities I have lived in are Purbalingga, Yogyakarta and Jakarta. Purbalingga is a little town in Central Java where I was born. I took my school in the town from elementary school to senior high school. Yogyakarta is the second place I lived in for six years. And, now I am living in Jakarta. But, I think I will leave the city in the near future. I have a big plan. But, do not ask me about the secret plan. I will not tell you anything. Top secret...
What's your middle name? Is there a story or history behind it?
I am totally Javanase. Most of Javanese people has not last name, surename, or middle name. I only have a one word name. Yes, only one. You may compare it with other famous name such as Soekarno, my first president. His name is Soekarno, full stop, without any lastname or surename. Yes, this is our culture which is different from western culture.
Share a photo of something that comforts you.
Hey, I said it was a temple and I also said there was a church. Yes, the temple above is a catholic temple. It was built by catholic community in Bantul. At the top of the temple, you can find a statue of Jesus Christ. The temple is sorrounded by many trees. People usually take meditation arround the temple. There is also a well with fresh water. I want to visit the temple again. At the end of the year I will go to Bantul again. It will comfort me, right?
Saya melihat tiga ekor kerbau ini di lapangan. Ketiganya kelihatannya tidak bergairah untuk hidup. Bayangkan saja, matanya sipit dan tidak sangar seperti bantengnya Bu Mega. Kasihan sekali kerbau ini. Lapangannya kering, rumputnya pendek. Pasti rasa rumput ini tidak enak, ya? Nggak heran kalau kerbau ini tidak mau makan rumput. Jadilah sampah pun dimakannya. Mungkin rasanya juga tidak enak juga. Tapi, apa boleh buat.
Inilah nasib kerbau di Jakarta. Sawah yang dulunya dibajak sudah digusur perumahan. Tidak ada lagi pekerjaan yang bisa dilakukan. Sungai tempat dia sering dimandikan pun sekarang sudah berubah. Tidak lagi jernih seperti dulu. Sekarang warnanya menjadi hitam akibat polusi pabrik. Duh, merana benar kerbau ini.
Saya tebak kerbau ini tidak lama lagi akan berubah menjadi rendang. Wah, rendang kerbau pun tidak enak rasanya. Pasti dagingnya alot, tidak lunak seperti daging sapi yang empuk. Duh, hidup salah, mati pun nggak kebeneran juga. Dasar, nasib kerbau di Jakarta memang tidak bagus. Merana...
Goa Lawa terletak 27 kilometer di sebelah utara kota Purbalingga. Dari ibukota kabupaten ini kita harus naik ke lereng Gunung Slamet melewati Kecamatan Bobotsari. Jalan di daerah ini sangat bagus, cukup lebar meskipun banyak kelokan tajam dan ramai. Goa ini tepatnya berada di Kecamatan Karangreja, di sisi kiri jalan yang menghubungkan Purbalingga dengan Pemalang. Dari jalan besar ini kita masih harus menanjak lagi sekitar 5 kilometeran. Jalan ini pun sudah diaspal halus. Bis besar bisa memasuki jalan ini.
Tidak seperti gua yang biasanya ada di Indonesia yang biasanya berada di lereng bukit dan batuan kapur sehingga akan timbul stalagtit dan stalagmit, Gua lawa ini memiliki keistimewaan karena dibentuk dari proses pendinginan lava, sehingga batuannya keras dan kuat tanpa menimbulkan stalagtit dan stalagmit. Untuk bisa melihat dari dekat keindahan Gua Lawa ini, kita harus menuruni lubang tanah dan menelusuri lorong-lorongnya.
Sebagai tempat rekreasi, tempat ini pun sangat cocok, karena udaranya yang sejuk dan menyegarkan. Dan ini cukup menjanjikan untuk menambah pendapatan asli daerah dari sektor pariwisata. Gua Lawa merupakan keajaiban alam yang mungkin satu-satunya di Indonesia. Umumnya gua-gua yang ada di Indonesia terdiri dari batuan kapur dan berada di lereng bukit, sehingga sering melahirkan stalagnit dan stalagmit. Sedangkan Gua Lawa termasuk gua vulkanik yang terbentuk dari lava pegunungan aktif yang meleleh dan mengalami pendinginan beribu-ribu, bahkan berjuta-juta tahun.
Proses pendinginan lava ini mengakibatkan batuannya keras dan kuat dengan warna hitam tanpa menimbulkan stalagnit maupun stalagmit. Tebal batuan bisa mencapai 50 meter, sehingga tahan terhadap guncangan. Letaknya juga tidak di lereng bukit, tapi di bukit. Proses alami dari gaya tarik bumi tidak mungkin terjadi di daerah kapur. Ciri-ciri gua vulkanik antara lain terdapat lorong dan mata air yang terjadi secara alami.
Untuk menikmati keindahan Gua Lawa kita harus menuruni lubang tanah yang menganga dan menelusuri lorong-lorong. Melewati jalan selebar satu meter, kita akan menikmati kelembaban di dalam gua dan kesejukan mata air yang selalu menetes dari dinding-dinding gua. Di setiap dua-tiga puluh meter perjalanan menelusuri gua, kita bisa menengok ke atas dan menyaksikan lubang tanah berdiameter lebar -- yang selama ini berfungsi sebagai ventilasi gua. Lubang-lubang itu terbentuk dari proses alam, bukan dibuat manusia. Sayangnya saya tidak bisa mengambil gambar keadaan di dalam goa ini. Cahaya yang minim menyebabkan kamera saya tidak mampu menangkap gambar dengan sempurna.
Semula terdapat 17 lubang. Belakangan dua lubang mengalami kerusakan dan mulai menyempit dengan sendirinya. Di atas lubang-lubang itu, kini dibuat atap permanen dari genteng berbentuk jamur. Dari luar gua orang bisa memandang ke bagian dalam gua lewat lobang ini.
Setelah menelusuri gua sepanjang 1,5 km, tentu kita akan merasa capek. Tapi keajaiban-keajaiban yang bisa kita temukan di bumi Purbalingga ini, akan segera mengusir rasa lelah. Apalagi untuk mereka yang menyukai olahraga jalan sehat. Tidak hanya kesegaran tubuh yang bisa didapat, tapi juga kesegaran pikiran dan jiwa.