Show us your favorite animal.
Inspired by the Emporer.
Show us a sign.
Submitted by the roo.
I took the picture last month in a hotel. This is a sign when the cleaning service doing their jobs, cleaning the floor. Sometimes it makes the floor slipery. That's why the boy put a sign to make the guest pay more attention.
Ya, kereta ini selalu penuh. Tiap gerbongnya dijejali oleh penumpang. Ada juga pedagang yang membawa keranjang bawaannya. Kadang saya bisa melihatnya ketika kereta ini sedang berhenti di stasiun Palmerah, Jakarta Barat. Saya melihat mengendari kereta ini tidak nyaman, ya. Pasti udara di dalamnya panas sekali. Belum lagi ditambah asap rokok bapak-bapak yang sembarangan mengepulkan racunnya. Ugh...
Nah, ada juga yang bergantungan di pintu kereta. Bahkan yang naik di atap kereta pun juga tidak terhitung banyaknya. Mereka duduk dengan santai. Jika stasiun sudah dekat, mereka bersiap-siap untuk turun. Tahukah Anda bahwa merekalah yang naik kereta di pintu dan atap berada di kelas VIP. Ya, mereka memang golongan VIP. Tapi, VIP di sini artinya adalah VERY IDIOT PERSON. Huahahahahaha....
Naik kereta dengan cara bergantungan di pintu dan naik ke atap adalah tindakan berbahaya. Hanya orang BODOH saja yang berani melakukannya. Ya, merekalah orang-orang VIP alias VERY IDIOT PERSON!
"Lumpur ini dari perut bumi, kami kembalikan lagi ke perut bumi," kata Menteri Negara Lingkungan Hidup, Rachmat Witoelar, di Jakarta kemarin, memastikan pembuangan lumpur Lapindo Brantas Inc. ke laut tidak akan mencemari lingkungan.
Dalam hati saya bertanya-tanya, apa tidak ada yang salah dengan omongan bapak menteri kita itu. Bukankah semua benda itu pasti awalnya juga dari dalam bumi? Apakah dengan demikian semua yang berasal dari dalam bumi bisa dibuang ke laut dan tidak akan mencemari lingkungan? Benar-benar sebuah pernyataan yang sangat naif dari seorang menteri yang seharusnya cerdas.
Pembuangan lumpur ke laut jelas memberikan dampak yang sangat buruk terhadap lingkungan. Tanpa adanya pembuangan lumpur pun laut kita sudah bertambah dangkal karena adanya erosi tanah yang masuk ke sungai dan kemudian mengalir ke laut. Mengalirkan lumpur Lapindo ke laut juga sama saja dengan mencemari laut dengan lumpur. Berapa jumlah petambak yang mengalami kerugian karena hal ini? Berapa ikan yang mati karena laut menjadi keruh dan berkurang kadar oksigennya?
Ah, menteri lingkungan kita ternyata tidak cerdas, ya?
Sudah berulang kali kiranya media massa kita menyoroti banyaknya pengemis saat bulan ramadhan tiba. Bahkan, televisi kita juga sudah melakukan reportase tentang bagaimana para peminta-minta itu melakukan triknya agar nampak lebih memelas. Ada yang membuat luka buatan, ada pula yang pura-pura cacat.
Nah, seorang pengemis yang saya lihat di jalan ini contohnya. Sudah lama dia beroperasi di bawah kolong jembatan Slipi. Lokasi ini memang strategis. Ratusan mobil tiap hari lewat jalanan ini. Kendaraan yang lalu lalang di sini pasti jalannya lambat di pagi hari. Maklumlah, jumlahnya sangat banyak dan berjejal-jejal. Apalagi jika palang kereta api diturunkan, kemacetan semakin menjadi-jadi. Sekitar sore dan malam hari wanita ini akan berpindah lokasi operasinya. Dia akan berada di atas jembatan, masih bersama bayinya. Jika tidak percaya, silakan cek sendiri saat kemacetan melanda daerah Slipi. Dia berada di atas jembatan Slipi yang menuju ke arah Grogol.
Wanita ini tidak sendirian mengemis. Dia ditemani seorang balita yang diletakkannya di trotoar. Benar-benar sebuah trik yang amat jitu! Dia menengadahkan tangan saat satu per satu mobil lewat. Sementara itu anak kecilnya tiduran di selembar kain yang digelar di trotoar.
Kalau tidak salah ingat, saya sudah melihat wanita ini sejak satu atau dua tahun ini. Apakah bayinya tidak bertambah besar? Ah, jangan tanya hal itu. Di Jakarta ini apa sih yang tidak bisa disewa? Bayi untuk piranti mengemis pun ada persewaannya. Benar-benar tidak manusiawi. Sebuah koran pernah mengungkap bahwa biaya sewa satu orang bayi per hari untuk diajak mengemis adalah Rp15.000 sampai Rp25.000. Nah, penyewa harus menyediakan makanan dan minuman untuk sang balita. Tapi, jarang ada pengemis yang memberikan susu ke bayi sewaan ini. Paling-paling cuma air teh manis saja.
Berapa hasil dari mengemis per hari? Konon, seperti diungkap oleh televisi akhir-akhir ini, saat bulan ramadhan seperti ini penghasilannya melonjak tajam. Banyak orang yang berlomba-lomba memberikan sedekah. Minimal orang bermobil melempar lembaran seribuan ke pengemis. Uang gocap sudah jarang dilemparkan. Tidak heran jika uang Rp100.000 per hari pasti sudah di tangan. Bayangkan, jika dia mengemis setiap hari maka gaji seorang sarjana lulusan UGM yang baru pertama kali kerja pun akan dikalahkan oleh penghasilan seorang pengemis. Hebat, bukan?
Ya, begitulah salah satu potret di Jakarta sekarang. Saya sendiri terus terang tidak pernah memberi uang ke pengemis di jalanan. Setelah tahu laporan media massa yang mengungkapkan kebohongan yang dilakukan para pengemis, saya tidak memberi uang ke mereka. Jika kita membei uang ke pengemis palsu seperti itu, artinya kita memberikan harapan ke mereka. Harapan inilah yang memaksa mereka untuk tetap berada di pinggir jalan dan mengemis tiap hari. Hasil mengemis jauh lebih besar daripada membanting tulang, khan? Nah, untuk memaksa mereka bekerja, satu-satunya cara adalah dengan tidak memberi mereka uang. Jika ingin membantu orang lain, bantulah orang yang benar-benar Anda kenal, misalnya tetangga di kanan kiri Anda. Bantuan seperti itu pasti tepat sasaran daripada memberi ke para pengemis jalanan.
Orang jenis seperti inilah yang menjadi sasaran mereka. Saya ogah dimasukkan ke dalam kelompok itu. Pelayanan pedagang jenis ini pun sering kurang baik. Mereka juga pasti berpikir,"Ah, pembeli ini khan nggak akan sering-sering beli sama saya." Jadilah mutu layanannya turun, tapi harganya naik. Saya tidak mau diperas seperti itu. Lebih baik menyediakan minuman di mobil. Jika pengin minum, tinggal ambil saja. Bukan begitu, sodara-sodara?
Sudah lama saya tidak melewati Jalan Asia Afrika di depan Plaza Senayan. Maklumlah, saya memang bukan orang yang suka keluyuran ke mall ini. Pun saya belum pernah masuk ke mall baru yang ada di seberangnya yang bernama Senayan City. Dua mall mahal ini berdiri agak berseberang-sebarangan.
Nah, kemarin saya kaget bukan kepalang. Setelah melewati Universitas Moestopo di Jalan Hang Lekir yang selalu terendat itu, legalah rasanya. Biasanya jalanan lancar sampai depan Plaza Senayan. Tikungan sebelum plaza itu pun biasanya bisa dilahap dengan mudah, nyaris tanpa gangguan sama sekali.
Tapi, ternyata sekarang di situ sudah berdiri lampu pengatur lalu lintas. Nyaris gerobak saya menubruk taksi yang ada di depan. Duh, ternyata sekarang ada putaran dari arah Plaza Senayan supaya pengunjung bisa masuk ke Senayan City. Jalan di sisi barat "digeser" ke sisi timur dan diujungnya ditempatkan sebuah lampu pengatur lalu lintas.
Posisi seperti ini benar-benar aneh dan membahayakan. Biasanya, lampu lalu lintas adanya di perempatan atau pertigaan. Tapi, lampu lalin di depan Senayan City ini berada di jalan yang lurus. Lampu ini benar-benar diadakan hanya untuk mengalirkan pengunjung ke mall yang baru, Senayan City.
Lampu lalin ini juga sangat berbahaya. Posisinya yang terletak setelah tikungan membuat pengendara terkaget-kaget, kagok. Saya sudah mengalaminya sendiri kemarin. Penjaga yang ada di situ tidak terlalu membantu. Benar-benar berbahaya.
Ada yang pernah kagok ketika lewat situ?
Hi..Aku memang dari Purbalingga. Tapi aku kurang begitu kenal dengan daerah Bobotsari ke atas. Foto ini sependek ingatanku diambil di... read more
on Vox Hunt: Life Was Never The Same